Forum Abdima

Forum Abdi Madrasah

Pengunjung

Diberdayakan oleh Blogger.
Petunjuk Teknis (Juknis) Beasiswa S-2 Kemenag Bagi Guru dan Calon Pengawas Madrasah

On Jumat, Agustus 25, 2017

Sahabat Abdima,
Beberapa hari yang lalu telah kami bagikan informasi mengenai Edaran Beasiswa S-2 Kemenag Bagi Guru dan Calon Pengawas Madrasah, yakni untuk meningkatkan mutu guru dan tenaga kependidikan pada Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah memberikan kesempatan kepada para guru dan tenaga kependidikan (calon pengawas) untuk memperoleh Program Tugas Belajar studi lanjut ke jenjang strata-2 pada perguruan tinggi dalam negeri.

Program Beasiswa atau lebih tepatnya Tugas Belajar Strata-2 bagi Guru dan Calon Pengawas Madrasah adalah program pemberian penghargaan bagi guru dan calon pengawas madrasah berupa Program Tugas Belajar Strata-2 yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Islam melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah pada Perguruan Tinggi yang ditetapkan sebagai mitra penyelenggara.

Petunjuk Teknis (Juknis) Beasiswa S-2 Kemenag Bagi Guru dan calon Pengawas Madrasah

Perlu difahami bahwa Program Tugas Belajar Strata-2 ini bersifat sementara dan terbatas yang akan diberikan selama mengikuti pendidikan dalam jangka waktu 2 tahun atau 4 semester dan bagi guru yang mengikuti program ini, yang bersangkutan dibebaskan dari tugas pokoknya sebagai guru selama 2 talun (4 semester) dan kembali lagi menjalankan tugas pokoknya setelah program selesai.

Agar pelaksanaan program ini berjalan sesuai dengan harapan, untuk maksud memiliki kerangka pandang yang sama, memudahkan koordinasi, dan memperjelas garis akuntabilitas, Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah telah menyusun dan mempublikasikan petunjuk teknis penyelenggaraan Program Tugas Belajar Strata-2 yang tertuang dalam lampiran Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 4142 Tahun 2017 Tentang Petunjuk Teknis Program tugas Belajar Strata-2 Guru dan Calon Pengawas Madrasah Tahun Anggaran 2017.

Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 4142 Tahun 2017 beserta lampirannya, silahkan unduh pada tautan dibawah ini :
JUKNIS PROGRAM TUGAS BELAJAR S-2 GURU DAN PENGAWAS MADRASAH TAHUN 2017
Program tugas Belajar Strata-2 Guru dan Calon Pengawas Madrasah ini terbuka luas bagi segenap guru Madrasah baik PNS maupun Non PNS. berikut dibawah ini sasaran program atau siapa saja yang berhak mengikuti Program tugas Belajar Strata-2 Guru dan Calon Pengawas Madrasah tahun anggaran 2017 :
  1. Guru PNS Kementerian Agama yang mengajar pada MI, MTs dan MA;
  2. Guru Tetap Yayasan yang mengajar pada madrasah swasta (MIS, MTSS dan MAS);
  3. Guru Bukan PNS yang mengajar pada madrasah negeri (MIN, MTSN dan MAN);
  4. Calon Pengawas Madrasah semua jenjang (dibuktikan dengan Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Latihan (STTPL) Calon Pengawas dari Balai Diklat Kementerian Agama).
Sekali lagi bagi yang berminat mengikuti program ini silahkan diunduh dan dipelajari kemudian segera menghubungi perguruan tinggi yang program studinya rekan-rekan pilih untuk mendapatkan informasi yang lebih detail. Adapaun informasi mengenai daftar nama perguruan tinggi, program studi serta jumlah kuota silahkan baca DISINI.

Demikian info mengenai Petunjuk Teknis (Juknis) Beasiswa S-2 Kemenag Bagi Guru dan calon Pengawas Madrasah, Terimakasih atas kunjunganya dan semoga info ini ada manfaatnya._Abdi Madrasah

Edaran Beasiswa S-2 Kemenag Bagi Guru dan Calon Pengawas Madrasah

On Selasa, Agustus 22, 2017

Sahabat abdima,
Kualitas dan profesionalisme guru dan tenaga kependidikan (calon pengawas madrasah) memiliki kontribusi besar bagi keterjaminan proses pendidikan yang bermutu di lingkungan madrasah, karena melalui kinerja merekalah layanan akademik dan administratif pendidikan dapat dilakukaa secara optimal. lklim birokrasi akademik yang kondusif tentu akan berimplikasi langsung bagi tumbuhnya kreatifitas dan produktifitas civitas madrasah.

Beasiswa S-2 Kemenag Bagi Guru dan Calon Pengawas Madrasah

Sejalan dengan pemikiran diatas, tertanggal 21 Agustus 2017 Direktorat Jenderal Pendidikan Islam melalui Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan Madrasah telah menerbitkan surat edaran nomor : 456/Dt.I.II/3/KP.02/8/2017 perihal Pemberitahuan Tugas Belajar S2 bagi Guru dan Calon Pengawas Madrasah.

Proses pendidikan pada program tugas belajar Strata dua (S-2) untuk Guru dan Calon Pengawas Madrasah akan diselenggarakan pada beberapa perguruan tinggi yang telah ditentukan oleh Dirjen Pendis. Adapun daftar nama perguruan tinggi beserta program studi serta jumlah kuota sebagaimana disertakan sebagai lampiran pada surat edaran nomor : 456/Dt.I.II/3/KP.02/8/2017 adalah sebagai berikut :

No Perguruan Tinggi Pelaksana Program Studi Kuota
1 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta MPI 20
2 UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta PAI 20
3 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang PGMI 20
4 UIN Sunan Ampel Surabaya PAI 17
5 UIN Alauddin Makasar PAI 17
6 UIN Raden Fatah Palembang PAI 17
7 UIN Walisongo Semarang MPI 17
8 IAI Nahdlatul Ulama Kebumen PAI 15
9 Universitas Wahid Hasyim Semarang PAI 17
10 Universitas Negeri Surabaya Pendidikan IPS dan Pendidikan Ekonomi 40
Jumlah 200

Selengkapnya mengenai isi surat edaran nomor : 456/Dt.I.II/3/KP.02/8/2017 perihal Pemberitahuan Tugas Belajar S2 bagi Guru dan Calon Pengawas Madrasah, termasuk didalamnya mengenai persyaratan peserta program tersebut silahkan unduh pada tautan dibawah ini :
EDARAN BEASISWA GURU DAN PENGAWAS MADRASAH
Demikian informasi mengenai Edaran Beasiswa S-2 Kemenag Bagi Guru dan Calon Pengawas Madrasah, silahkan di unduh informasinya, dipelajari dan jika berminat silahkan menghubungi perguruan tinggi yang program studinya rekan-rekan pilih untuk mendapatkan informasi yang lebih detail. Terimakasih semoga info ini ada manfaatnya._Abdi Madrasah

Ditjen Pendis Terapkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP)

On Jumat, Januari 27, 2017

Sahabat Abbdima,
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pada Rabu 25 januari 2017 resmi membuka sebuah terobosan baru yang diterapkan oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Pendidikan Islam yakni adanya Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Penerapan kebijakan ini sesuai dengan komitmen Ditjen Pendis dalam mewujudkan visi Menteri Agama untuk memberikan pelayanan yang cepa dan tepat.

Ditjen Pendis Terapkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP)

Seperti kami kutip dari situs resmi Kemenag, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kamaruddin Amin menyampaikan bahwa pada Ditjen Pendidikan Islam banyak urusan yang terkait pelayanan publik karena sasarannya banyak sekali. Karenanya, seluruh layanan di Ditjen Pendis harus dan akan dimasukkan melalui PTSP, Kalau tidak (tidak dimasukkan ke PTSP), pasti kita tidak bisa memberikan pelayanan cepat. Sejauh ini resources kita terbatas, sementara amanah yang dibebankan kepada kita besar sekali, sehingga harus ada upaya memberikan layanan terbaik dengan basis online dan melalui PTSP.

Sebagai langkah awal, layanan Ditjen Pendis yang sudah siap diberikan melalui PTSP adalah penyetaraan ijazah luar negeri, pengajuan pembukaan progam studi pendidikan tinggi keagamaan, serta pengurusan izin dan tugas belajar. Kalau selama ini pengajuan prodi pada perguruan tinggi rata-rata memakan waktu 6 bulan, melalui PTSP bisa selesai lebih cepat, paling lama sebulan sudah terbit surat keputusan, setelah seluruh berkas dan proses lengkap dan selesai.

Pelayanan publik melalui PTSP akan terus dikembangkan karena dipandang PTSP merupakan isntrumen yang sangat bagus. Dengan adanya PTSP ini setidaknya membawa beberapa manfaat diantaranya dengan adanya PTSP ini kita bisa mengakselerasi proses layanan publik dan meminimalisasi bahkan meniadakan potensi-potensi yang tidak sesuai dengan tata kelola yang benar, misalnya tidak ada pertemuan fisik antara pelayan dan yang dilayani sehinggan meniadakan potensi adannya pungutan liar (pungli).

Dengan akan terus dikembangkanya layanan pada PTSP ini mudah-mudahan saja kedepan juga akan lebih menyentuh kepada layanan-layanan yang dibutuhkan oleh segenap pegawai kemenag termasuk juga pelayanan bagi Guru Madrasah selain pengurusan izin dan tugas belajar yang saat ini telah diterapkan pada PTSP.

Demikian info mengenai Ditjen Pendis Terapkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), semoga ada manfaatnya._Abdima

Arah Angin Sedang Menuju Madrasah

On Selasa, Januari 10, 2017

Sahabat Abdima,
Prestasi akademik yang dicapai anak madrasah saat ini tidak lepas dari kebijakan yang diterapkan oleh Kementerian Agama. Sejak awal mereka harus memilih antara sains, vokasi, atau keagamaan murni. Konsep madrasah yang baru itu didukung dengan program ma’had (asrama), sehingga bidang keagamaan ditanamkan sebagai fondasi. Jam pelajaran di sekolah lebih efektif dan efisien.

Salah seorang yang berperan penting membawa madrasah ke era persaingan bebas adalah direktur pada Direktorat Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof. Dr. Phil M. Nur Kholis Setiawan MA. Beliau peraih gelar Doktor phil Oriental and Islamic Studies dari Universitas Bonn, Jerman ini mengungkapkan pemikirannya.
Berikut ini petikannya :

Arah Angin Sedang Menuju Madrasah

Bagaimana kondisi madrasah saat ini?
Salah satu masalah utama yang awalnya kita hadapi pada awalnya adalah animo masyarakat yang makin hari makin rendah terhadap madrasah. Sekarang ini citra madrasah sudah bisa dinaikkan di berbagai daerah sehingga peminatnya tinggi. Saya ambil contoh di dekat Manado, Sulawesi Utara, ada Madrasah Ibtidaiyah Negeri jumlah siswanya diatas 2000. Sulit sekali mencari sekolah dasar yang jumlah siswanya sebanyak itu. Saya sendiri kaget. Madrasah yang ada diperkotaan apalagi, yang antre ribuan. Saya melihat masyarakat sudah punya pandangan yang berbeda terhadap madrasah.

Bagaimana citranya dibanding sekolah umum?
Kalau saya melihat data-data saat ini anak-anak madrasah telah berhasil meraih prestasi di semua bidang. Dalam lima tahun terakhir peningkatannya semakin luar biasa. Tidak hanya soal akademik, namun juga hal-hal non-akademik seperti olahraga, marching band, maupun semi-akademik seperti robotik.

Untuk membuat madrasah kompetitif bersaing dengan sekolah umum, di lingkup madrasah sendiri kami menggelar event-event bertaraf nasional. Misalnya saja Ajang Kompetisi Seni dan Olah Raga Madrasah (AKSIOMA) dan juga Kompetisi Sains Madrasah (KSM).

Mengapa hal ini tidak dilakukan dari dulu?
Saat ini kebijakan pemerintah sudah berpihak sepenuhnya. Madrasah sudah dilihat sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Kalau dulu masih terdiskriminasi dalam berbagai hal. Contoh kecil saja, kalau ada ajang Olimpiade Sains Nasional anak madrasah tidak boleh ikut. Tetapi dari segi pendanaan masih terdiskriminasi. Kalau sekolah umum dibantu pusat dan daerah, misalnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan itu menggunakan strategi pendanaan otonomi daerah. Tetapi madrasah masih disangga secara vertikal saja oleh Kemenag.

Penilaian madrasah dalam akreditasi bagaimana?
Saat ini setengah jumlah madrasah yang sudah terakreditasi, levelnya B. Sisanya terakreditasi A dan C masing-masing 25%. Yang kita prioritaskan saat ini menaikkan yang dari C ke B. Sementara yang belum terakreditasi masih 15% dan kami berkomitmen untuk segera menyelesaikan, tetapi kami juga harus mengukur kemampuan karena lagi-lagi tantangan untuk madrasah swasta banyak di sarana dan prasarana. Katakanlah anggaran pemerintah untuk akreditasi dalam setahun 4% dalam skema APBN, maka target itu realistis dapat dicapai paling cepat dalam empat tahun. Hal ini tidak hanya bergantung Kemenag saja karena 94% madrasah itu milik masyarakat, hanya 6% saja yang milik pemerintah.

Maka sifat pemerintah hanya memberi stimulan saja dengan supervisi yang diperlukan. Untuk itu kami punya komitmen untuk melakukan bantuan dan pendampingan. Kalau madrasah negeri tentu semua sudah terakreditasi.

Bagaimana cara membuat anak madrasah sepintar anak SMA favorit?
Saat ini kami buat tiga kelompok besar madrasah. Pertama, madrasah akademik yang memilih spesialisasi bidang sains. Kedua, madrasah vokasi yang memiliki potensi keterampilan atau kejuruan. Ketiga, madrasah yang khusus untuk kajian keislaman. Dengan tiga segmen itu, kurikulum mereka tidak bisa lagi dan mereka siap diadu head to head dengan sekolah umum yang setara. Untuk madrasah vokasi kami sesuaikan dengan potensi lokal yang ada. Contohnya di Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, ada madrasah perikanan karena di sana potensi lautnya besar.

Orientasinya kemana tipe-tipe itu?
Tipe pertama jelas dididik untuk ilmuwan. Tipe kedua output-nya ya tenaga kerja. Sedangkan tipe ketiga kami persiapkan untuk ulama. Hasil akhir itu tidak tercapai dalam satu atau dua tahun mendatang tetapi butuh proses panjang. Kami ingin setidaknya ada garis demarkasi yang jelas dan regulasi yang jelas untuk pengembangan tiga tipologi itu dengan sama-sama berkarakter religius kuat.

Apa yang masih menjadi PR besar saat ini?
Sumberdaya guru dan sarana prasarana. Dari 813.595 guru madrasah, yang statusnya pegawai negeri sipil hanya 16%. Yang bukan pegawai negeri itu terkadang sulit diukur kompetensinya. Dengan pengembangan madrasah saat ini kami tidak butuh lagi guru agama, tapi yang kami butuhkan guru-guru sains dan guru-guru kejuruan.

Demikian ungkapan pemikiran Direktur Pendidikan Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Prof. Dr. Phil. H. M. Nur Kholis Setiawan, MA. yang kami salin dari Laporan Utama Majalah Pendidikan Islam Edisi 7 dengan Judul Arah Angin Sedang Menuju Madrasah. Semoga informasi ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan kita terkait pengembangan dan kemajuan Madrasah._Abdi Madrasah

Evolusi Madrasah Di Zaman Yang Berubah

On Sabtu, Januari 07, 2017

Sahabat Abdima,
Tepuk tangan riuh bergema di studio MetroTV di Jakarta, penghujung November lalu. Ratusan penonton yang hadir di studio berdecak kagum saat tiga siswa madrasah ditampilkan ke atas stage untuk menceritakan pengalamannya memenangi lomba event-event bergengsi. Para juara muda itu adalah, Alin Azkannuha (14), Dafa Maheswara Wiryawan (17), dan Ayatul Marifah (17).

Azkannuha yang akrab dipanggil Azka adalah pemenang Lomba Penelitian Ilmiah Remaja tingkat SLTP yang diadakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Bersama dua temannya, Nasim dan Faqih, remaja yang telah hafidz al-Qur’an itu mempersembahkan sebuah alat penetralisir karbon asap rokok menjadi oksigen.

Evolusi Madrasah Di Zaman yang Berubah

Karya aplikatif ini dibuat di sela-sela kesibukannya menghafal al-Qur’an dan bersekolah di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Tahfidz Yanbuul Quran Kudus, Jawa Tengah. “Alat ini kami namakan Tifanter Twenty Five yang bisa diimplementasikan di smooking area,” jelas Azka yang telah menghafal komplit 30 juz.

Jagoan lain yang tampil di Metro TV saat itu adalah Dafa Maheswara Wiryawan dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Jakarta. Siswa kelas 10 ini sudah lebih dari sepuluh kali menjadi juara di berbagai event nasional maupun dunia. Terakhir, Dafa meraih medali perak di International Youth Robot Competition 2016 di Daejon, Korea Selatan, Agustus lalu. Ia menang dalam katagori coding mission creative robot mengalahkan para peserta dari 15 negara termasuk Israel, Russia, Tiongkok, Singapura, Malaysia, Amerika Serikat, dan Korea Selatan.

Yang ketiga, Ayatul Ma’rifah, tidak kalah hebat. Siswi cantik dari Madrasah Aliyah (MA) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta ini adalah penulis dan peneliti belia. Ia pernah menyabet berbagai gelar juara dalam lomba karya ilmiah, di antaranya di Universitas Andalas Padang, Universitas Atmajaya Jakarta, dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Gadis asal Magelang ini juga juara penulisan esai tingkat nasional yang atas tissu, beberapa detik kemudian terjadi reaksi. Jika makanan mengandung formalin maka tissu akan berubah menjadi pink dan jika mengandung boraks, maka tissu akan berwarna biru keunguan,” terangnya.

Penampilan anak-anak itu tentu saja membuat banyak penonton kagum. Cara mereka berpakaian, bertingkah laku, dan tutur bahasanya menciptakan kesan cerdas, sopan, dan saleh. Tepuk tangan sambung menyambung di sela-sela testimoni mereka.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang mendampingi mereka di acara itu mengaku bangga dengan prestasi yang mereka raih. Berbagai prestasi anak madrasah, menurut Menag, berimplikasi menaikkan citra madrasah di mata publik. Pada lima tahun terakhir madrasah mengalami perkembangan amat pesat,” katanya. Menurutnya madrasah kini tidak lagi menjadi lembaga pendidikan alternatif, tapi menjadi pilihan utama orang tua. Untuk itu kementerian yang dipimpinnya terus mengucurkan program strategis guna lebih memajukan sekolah berciri khas Islam itu. Antara lain dengan penguatan infrastruktur, pembaruan kurikulum, dan penguatan kompetensi guru.

Berbagai ikhtiar tersebut tidak percuma apabila dilihat dari perkembangan madrasah dalam beberapa tahun terakhir. Setidaknya sejak tahun 2004, berbagai prestasi ditorehkan madrasah-madrasah dari penjuru nusantara dalam berbagai hal, mulai nilai ujian nasional tertinggi, olimpiade sains, karya ilmiah, olahraga, marching band, robotik, dan lain-lain.

Pemberitaan media massa tentang prestasi anak madrasah saat ini bukan barang langka seperti zaman dahulu. Di ajang internasional, yang dahulu hanya konsumsi sekolah umum bonafid, kini tak lepas dari andil anak madrasah. Belum lama ini, di gelaran International Youth Robot Competition 2016 Korea, para siswa madrasah mendominasi perwakilan Indonesia.

Sejumlah nama berhasil membawa pulang medali. Syahrozad Zalfa Nadia, dari Madrasah Ibtidaiyah (MI) Pembangunan UIN Jakarta memborong empat medali dalam kategori coding mission, steem mission, dan creative design. Secara kelompok, madrasah Pembangunan UIN Jakarta juga meraih medali untuk tim “Mesin Cap Batik Otomatis”. Pada event internasional sebelumnya di Malaysia, madrasah ini meraih empat penghargaan dalam Asian Robotic Championship 2016 di Kuala Lumpur.

Di Singapura International Math Olympiad Challenge (SIMOC) 2016, lima siswa madrasah lainnya berhasil menorehkan prestasi. Yang lebih mengagumkan, mereka adalah anak-anak madrasah “udik” dari MA Mathalibul Huda Jepara, dan MA Abadiyah Pati. Padahal SIMOC merupakan event global bergengsi untuk kelas 2 (primary 2) hingga kelas 10 (secondary 4) yang diikuti tak kurang dari 700 peserta dari 15 negara termasuk Hong Kong, India, Uzbekistan, Bulgaria, Tiongkok, dan Rusia.

Di event nasional madrasah juga tak kalah moncer dengan SMA. Olimpiade Sains Nasional kini sudah merupakan ladang medali bagi anak-anak madrasah,dengan jumlah penghargaan tidak terhitung lagi banyaknya.

Kejayaan mereka bahkan merambah bidang-bidang yang jauh dari basis awal madrasah. Olimpiade Teknologi Ilmu Komputer Nasional yang diselenggarakan oleh Komunitas Guru TIK (KogTIK) 2016 di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum lama ini banyak medalinya jatuh ke tangan Madarah Aliyah Negeri 3 Jakarta, Madrasah Aliyah Negeri 2 Palembang, dan MTsN Pamulang. Mata lombanya antara lain membuat games, design web, bloging, robotik, menggambar digital, membuat film pendek, dan project based learning.

Fakta-fakta bahwa secara masif berbagai madrasah di tanah air unjuk gigi adalah menggembirakan. Direktur Madrasah Ditjen Pendidikan Islam Kemenag Prof. Dr. Nur Kholish Setiawan MA. mengaku surprised dengan evolusi yang dicapai madrasah. Kreativitas dan inovasi membuat madrasah tampil beda dan mendapatkan rekognisi dari masyarakat,” ujarnya. “Prestasi ini harus kita pertahankan dan tingkatkan,”  tambahnya. OSN yang dulunya langganan anak SMA kini telah banyak direbut anak madrasah.

Tahun ini sebanyak 52 siswa Madrasah Aliyah dari berbagai provinsi di Indonesia menjadi bagian dari 408 peserta Olimpiade Sains Nasional. Mereka lolos dalam seleksi ketat yang terdiri atas sembilan bidang keilmuan, yaitu matematika, fisika, kimia, informatika/komputer, biologi, astronomi, ekonomi, dan Geografi.

Mereka berasal dari MAN Insan Cendekia Serpong, MAN IC Gorontalo, MAN IC Jambi, MAN IC Ogan Komering Ilir, MAN 3 Malang, MAN 4 DKI Jakarta, MA Muallimin Jogjakarta, MA Amatullah Surabaya, MAN 1 Jogjakarta, MAN 1 Lampung Tengah, MAN 2 Payakumbuh, MA Mareku Maluku, MA Darul Mursyid Sumut, MA Husnul Khotimah Jabar, dan MAN Fakfak, Papua Barat.

Demikian mengenai Evolusi Madrasah Di Zaman Yang Berubah, semoga madrasah lebih baik dan semakin lebih baik._Abdi Madrasah

Sambutan Menteri Agama Pada Peringatan Hari Amal Bakti Ke-71 Kementerian Agama RI Tahun 2017

On Senin, Januari 02, 2017

Sahabat Abdima,
Tujuh puluh satu tahun yang lalu, Kamis 3 Januari 1946 bertepatan dengan 29 Muharam 1364 Hijriyah, Kementerian Agama secara resmi berdiri dan pemerintah mengangkat Menteri Agama yang pertama almarhum Haji Mohammad Rasjidi. Oleh karenanya maka setiap tanggal 3 januari diperingati sebagai hari kelahiran kementerian Agama atau yang disebut sebagai Hari Amal Bhakti (HAB) Kementerian Agama.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya bahwa salah satu kegiatan yang bersifat wajib pada setiap memperingati HAB kementerian Agama adalah adanya kegiatan upacara diseluruh satuan kerja Kementerian Agama Pusat maupun daerah. Dan berikut dibawah ini Sambutan Menteri Agama Pada Peringatan Hari Amal Bakti Ke-71 Kementerian Agama RI Tahun 2017.


SAMBUTAN MENTERI AGAMA RI
PADA UPACARA PERINGATAN HARI AMAL BAKTI
KEMENTERIAN AGAMA KE-71
JAKARTA, 3 JANUARI 2017

Assalamu'alaikum wr.wb.
Salam sejahtera bagi kita sekalian,
Yang saya hormati dan saya banggakan, Seluruh Aparatur Sipil Negara di Lingkungan Kementerian Agama,
Hadirin, peserta upacara yang berbahagia,

Dengan memanjatkan doa syukur yang setinggi-tingginya ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, pada pagi hari ini, tanggal 3 Januari 2017, kita memperingati Hari Amal Bakti Ke-71 Kementerian Agama Republik Indonesia.

Tujuh puluh satu tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 3 Januari 1946, Pemerintah atas usul dari Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) membentuk Kementerian Agama dan mengangkat Menteri Agama yang pertama yaitu Haji Mohammad Rasjidi. Pembentukan Kementerian Agama merupakan peristiwa penting dan bersejarah bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara religius yang nasionalis.

Saudara-saudara sekalian,
Kita ketahui, agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bangsa dan negara kita. Semangat dan motivasi keagamaan adalah sumber kekuatan kita dalam meraih kemerdekaan, mempertahankan kedaulatan nasional, dan menjaga keutuhan NKRI. Agama mendapatkan kedudukan terhormat dalam tata kehidupan masyarakat, sehingga dijadikan sebagai salah satu sumber pembentukan hukum nasional. Agama menjadi ruh kehidupan kebangsaan kita sesuai dengan dasar Ketuhanan Yang Maha Esa.

Salah satu pejuang kemerdekaan dan tokoh pendiri Republik Indonesia, Hadji Agus Salim, dalam tulisannya pada tahun 1950 berjudul "Kementerian Agama dalam Republik Indonesia", menjelaskan benang merah politik agama di Republik Indonesia yang berbeda dengan politik di masa kolonial. Menurutnya, jabatan dan tugas Kementerian Agama sungguh besar dan mulia karena sangat menentukan nasib bangsa ini. Kesatuan kebangsaan kita akan terpelihara secara kokoh dan tidak dapat dipecah belah amatlah tergantung pada kebijakan dan kecakapan aparatur Kementerian Agama.

Penegasan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai falsafah dasar kehidupan bernegara pada Pembukaan dan Batang Tubuh Undang-Undang Dasar 1945 mengandung makna bahwa dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita senantiasa memerlukan tuntunan Tuhan. Prinsip fundamental tersebut mengamanatkan supaya ajaran dan nilainilai agama diperankan sebagai pemberi arah sekaligus mendasari kehidupan kebangsaan kita yang ber-motto Bhinneka Tunggal Ika.

Agama yang diyakini dan diamalkan oleh umatnya masing-masing harus menjadi unsur pembentuk Nation and Character Building bangsa Indonesia yang majemuk ini. Karena itu, seluruh umat beragama harus menyadari dan disadarkan bahwa nilai-nilai agama merupakan unsur perekat integrasi nasional. Dalam kaitan ini pula saya ingin mengingatkan, toleransi dan kerukunan bukan milik sesuatu golongan umat beragama semata, tetapi harus menjadi milik semua golongan dan berlaku untuk semua pemeluk agama. Saling menghormati dan saling menghargai identitas keyakinan antarumat beragama harus terus dijaga dalam upaya melindungi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Saudara-saudara sekalian,
Sejalan dengan tema Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-71 tahun 2017 yaitu "Bersih Melayani" dan motto "Lebih Dekat Melayani Umat", saya berharap peringatan ulang tahun Kementerian Agama ini semakin memperkuat komitmen kita semua terhadap integritas dan etos kerja sebagai pelayan masyarakat dan pengayom semua umat beragama.

Seluruh jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) Kementerian Agama harus senantiasa mengembangkan wawasan serta meningkatkan ketrampilan dan kesigapan dalam bertugas. Ego sektoral, sektarianisme, dan sejenisnya harus disingkirkan dari lingkungan kerja Kementerian Agama. Kita harus bersikap sebagai agamawan sekaligus negarawan yang menempatkan kepentingan umat dan bangsa di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Di tengah cepatnya perubahan sosial dan pesatnya teknologi informasi, kita juga harus menjadi pelayan publik yang dapat diandalkan.

Kita bersyukur publik kini semakin menilai positif kinerja Kementerian Agama. Sebagian besar program telah mulai memenuhi harapan sehingga kinerja kita dianggap cukup baik dalam sejumlah survei. Indeks kepuasan jemaah haji terus naik, indeks kerukunan umat beragama juga masih tinggi, dan indeks reformasi birokrasi kita naik peringkat dari CC menjadi B yang berimplikasi naiknya tunjangan kinerja dari 40 menjadi 60 persen. Beberapa waktu lalu, kita juga mendapatkan sejumlah penghargaan seperti; penghargaan dari Presiden sebagai Penyedia Layanan BLU dengan Akses Terjangkau, dan Penghargaan dari Kemenkeu sebagai Kementerian dengan Kontribusi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) terbesar dalam APBN. Selain itu Kementerian Agama juga mendapatkan penghargaan ganda terkait ekonomi syariah, yaitu sebagai Pemrakarsa Proyek Infrastruktur Berbiaya Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) dan Investor Utama Sukuk Negara Domestik.

Tapi di sisi lain, Ombudsman Nasional menilai kita masih bertanda warna kuning atau belum begitu bagus dalam hal pemenuhan standar layanan publik. Kita juga turun predikat dari WTP menjadi WDP dalam audit keuangan oleh BPK. Pun masih ada keluhan-keluhan publik yang belum terselesaikan secara tuntas.

Terhadap kinerja kinerja positif, marilah bersyukur dan teruslah istiqomah (konsisten) dalam jalur yang baik. Sebaliknya, marilah segera kita benahi catatan-catatan negatif yang tersisa. Sebab itulah, kata "Bersih Melayani" yang merupakan tema HAB tahun lalu tetap dipertahankan. Harapannya, kita harus benar-benar bersih tanpa menyisakan sedikit pun noda. Hanya saja, tahun ini tema itu dilengkapi dengan motto "Lebih Dekat Melayani Umat" yang bermakna kita harus lebih peka mendeteksi aspirasi masyarakat, lebih sigap membereskan masalah, dan lebih cekatan memenuhi kebutuhan umat.

Wujud dari motto tersebut, tahun ini kita mulai membangun Pusat Layanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Melalui unit ini, kita berupaya mencapai standar mutu yang prima dalam melayani umat. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, segala proses perizinan, beasiswa, hingga bantuan sosial dilakukan secara lebih simpel, pasti, dan bebas pungli. Berbagai aplikasi manajemen yang menunjang kerja juga sedang dikembangkan demi tercapainya kinerja yang lebih baik. Selain itu, kita mencanangkan program-program baru sebagai respons atas situasi dan dinamika terkini terkait kehidupan beragama dalam masyarakat era digital.

Saudara-saudara sekalian,
Berbagai langkah baik tidak akan berjalan mulus tanpa sinergitas dan kebulatan hati. Saya berharap, 5 Nilai Budaya Kerja makin dijiwai dalam sanubari setiap kita, serta dilengkapi dengan semangat kerja sama yang apik. Insyaallah, hasilnya akan nampak nyata dan jadi berkah bagi kita semua. Inilah sesungguhnya hakikat dari bekerja dengan berlandaskan agama.

Sebagai ASN Kementerian Agama yang kerap dinilai punya keunggulan religiusitas dibanding ASN instansi lain, kita dituntut mengoptimalkan energi spiritual sebagai landasan kerja profesional. Sesuai kalimat "Ikhlas Beramal" pada logo Kementerian Agama, pengabdian pada masyarakat dan negara harus senantiasa diniatkan sebagai ibadah yang tulus. Artinya, selalu sadar bahwa kerja kita bukan saja dinilai oleh manusia, tapi juga diperhitungkan oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Demi menjaga ikatan agama dan bangsa di negara ini, kita harus menunjukkan bahwa kebaikan ajaran agama merupakan obor penerang bagi perbaikan kualitas manusia. Hal ini untuk menepis anggapan bahwa kemajuan sebuah instansi atau pemerintahan tak ada relevansinya dengan agama. Justru sebaliknya, reformasi birokrasi yang berorientasi pada tingginya peradaban masyarakat sesungguhnya adalah perwujudan nilai-nilai agama.

Dengan "Lebih Dekat Melayani Umat", kita akan lebih memahami apa yang mesti diperbuat untuk memperbaiki peradaban di negeri tercinta.

Hadirin sekalian,
Sebelum mengakhiri sambutan ini, saya berpesan kepada seluruh jajaran Kementerian Agama agar senantiasa menjaga marwah kementerian yang kita cintai sebagai organisasi yang sarat dengan nilai, kultur, dan tradisi baik.

Dalam kaitan ini, seluruh jajaran Kementerian Agama yang masih aktif perlu memelihara silaturrahim dengan para senior yang pernah menjabat di masa lampau. Generasi yang datang kemudian perlu belajar dari perjuangan dan pemikiran para pendahulu dan pandai menghargai jasa para senior yang telah memberikan kontribusinya kepada umat, bangsa, negara dan organisasi Kementerian Agama pada eranya masing-masing.

Demikian pesan dan harapan yang ingin saya sampaikan kepada saudara-saudara sekalian. Dirgahayu Kementerian Agama. Sekali Kementerian Agama tetap Kementerian Agama. Semoga Allah SWT,  Tuhan Yang Maha Kuasa, meridlai amal dan pengabdian kita.

Sekian dan terima kasih.
Wabillahi taufiq walhidayah,
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq.
Wassalamu'alaikum wr.wb.

Jakarta, 3 Januari 2017
Menteri Agama RI

Lukman Hakim Saifuddin


Dirjen Pendis Canangkan Tahun 2017 Sebagai Tahun Goes To Media

On Senin, November 21, 2016

Sahabat Abdima,
Direktorat Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) tahun depan berkomitmen akan melakukan program besar-besaran dalam bidang publikasi. Dirjen Pendis Kamaruddin Amin bahkan mencanangkan 2017 sebagai tahun Pendis Goes to Media. Hal tersebut dilakukan Pendis untuk menjawab kajian media bahwa sebagai lembaga yang menangani sektor pendidikan di Kementerian Agama, isu pemberitaan terkait Ditjen Pendidikan Islam masih menempati urutan keempat.

Dirjen Pendis Goes o Media

Berdasarkan hasil analisis media monitoring yang dilakukan oleh tim Pusat Informasi dan Humas (Pinmas), isu pendidikan Islam menempati urutan keempat dengan 934 berita, masih kalah dengan isu kerukunan (972), kehidupan beragama (1616), dan haji (4102). Padahal, dengan anggaran paling besar, mencapai 83% dari total anggaran Kementerian Agama, tentu banyak yang sudah dilakukan oleh Ditjen Pendidikan Islam.

Menurut Dirjen Pendis ada dua faktor penghambat publikasi :
  • Secara eksternal, Pendis masih dipersepsikan sebagai makmum dari Kemendikbud dalam mengelola pendidikan di Indonesia. "Sebagaiman kita ketahui, ada dua lembaga yang menangani pendidikan, yaitu Kemendikbud dan Kemenristek Dikti," katanya saat acara Pendidikan Islam di Mata Media, di Gedung Kementerian Agama.
  • Secara internalnya ialah struktur dan sumber daya manusia belum mendukung. Namun, lanjut Kamarudin, terbitnya Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 42 Tentang Orgnisasi dan Tata Kerja Kementerian Agama memberi angin segar. Saat ini, sudah ada satker setingkat eselon III yang nantinya akan mengurus masalah informasi dan kehumasan di lingkungan Pendis.
Oleh sebab itu, pada tahun 2017 Pendis akan melakukan beberapa langkah yang sudah disiapkan dalam mendukung publikasi program Pendidikan Islam, diantaranya: publikasi prestasi yang dihasilkan dari para guru, dosen, dan tenaga kependidikan. Selain itu Dirjen Pendis berencana akan melakukan publikasi dalam bentuk video dan qute yang berisi gambar tokoh yang disertai dengan pandangannya. Pendis akan melakukan publikasi yang dikemas dalam bentuk talkshow di televisi dan di radio.

Selain akan melakukan publikasi, Kamarudin berkomitmen mengundang para Indonesianis dan para Peneliti internasional agar masuk ke lembaga Pendidikan Islam. "Nanti akan saya panggil teman-teman Direktur di lingkungan Pendis, semua harus memaparkan desain dan harus punya. 2017, Pendis goes to media. Harus menjadi nomor satu," pungkasnya._Abdi Madrasah
Sumber : Dirjen Pendis